Jumat, 10 April 2015

POTENSI EKONOMI PEMANFAATAN AGARWOOD SEBAGAI PENGHASIL HASIL HUTAN NON KAYU



POTENSI EKONOMI PEMANFAATAN AGARWOOD SEBAGAI PENGHASIL HASIL HUTAN NON KAYU

Dosen Pembimbing:

Oleh :
Muhammad Evin Bustami  
131201031
Hut 4A













PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa yang telah memberikan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan paper ini dengan tepat waktu. Adapun judul dari paper ini adalah “Potensi Ekonomi Pemanfaatan Gaharu (Agarwood) sebagai Penghasil Hasil Hutan Non Kayu”, yang disusun sebagai salah satu syarat dalam memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan di Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
 Dalam penyusunan paper ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam  penyusunan materi ini tidak lain karena berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi dapat teratasi. Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si selaku dosen penanggungjawab mata kuliah ini, sehingga dalam pelaksanaannya dapat terwujudnya paper ini.
Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi sempurnanya pembuatan paper ini dan semoga paper ini bermanfaat tidak hanya bagi  mahasiswa dari Kehutanan Universitas Sumatera Utara saja, namun juga bermanfaat bagi setiap orang yang membacanya sehingga penulis dapat memperbaiki laporan ini agar menjadi lebih baik lagi ke depannya.




Medan,   April 2015

Penulis


DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR..............................................................................            i
DAFTAR ISI...................................................................................... .......           ii
BAB I PENDAHULUAN                                                                                     
Latar Belakang.................................................................................           1
Jenis-jenis Tumbuhan Penghasil Gaharu dan Penyebarannya....... ..         2
Tujuan .....................................................................................        2

BAB II ISI
A.    Ide atau Gagasan ....................................................................     3
B.     Manfaat Gaharu .....................................................................     3
C.     Teknologi Pengolahan Gaharu ................................................      4
D.    Pemanenan dan Penanganan Pasca Panen Gaharu .....................      6
E.     Arti Ekonomi Tanaman Gaharu ..............................................      8
F.      Analisis Budidaya Gaharu ...........................................................       8

BAB III. KESIMPULAN DAN SARAN                                                            
            Kesimpulan.......................................................................... ..........           11
            Saran.................................................................................... ............          11            
DAFTAR PUSTAKA












BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
GAHARU merupakan tanaman yang mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi, sehingga sangat tepat apabila dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat Indonesia. Hampir semua bagian pohon gaharu ini dapat dimanfaatkan untuk bahan baku produk, praktis tidak ada bagian yang terbuang. Kayu gaharu yang terinfeksi atau disebut gubal mempunyai nilai jual yang sangat tinggi, sementara gubal gaharu kualitas rendah dapat disuling untuk produksi minyak dengan harga yang sangat menjanjikan. Daun gaharu dapat dimanfaatkan untuk pembuatan teh gaharu. Turunan produk gaharu pun semakin hari semakin meningkat variasinya, menempatkan pohon gaharu sebagai pohon industri.
Manfaat gaharu diantaranya adalah pewangi rungan, bahan baku industri parfum ekslusif, bahan baku industri kosmetika, bahan baku untuk bahan obat (kanker, asmatik, perangsang, dll), bahan HIO (untuk ritual agama hindu, budha, dan Kong Hu Chu), bahan Kohdoh (jepang), serta daunnya dimanfaatkan untuk teh hijau (agarwood tea). Harga gubal gaharu bervariasi tergantung grade (kualitas), harga gubal gaharu grade super di pasar lokal mencapai Rp 25 jt/kg, sedangkan harga terendah Rp 50 ribu/kg untuk kayu gaharu yang tidak mengandung resin sama sekali.
Sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk yang diiringi dengan meningkatnya kesejahtreaan hidup dan terjadinya pergeseran gaya hidup (life style) serta didukung oleh kemajuan IPTEK telah mendorong peningkatan permintaan akan gubal gaharu dunia. Bersamaan dengan itu, ekspor gaharu Indonesia juga mengalami peningkatan yang pesat. Menurut data BPS yang di analisis oleh Asgarin (2001) dalam Parman (2004), ekspor gaharu Indonesia dalam lima tahun terakhir meningkat rata-rata 51 %.
Selama ini gaharu yang diekspor pada umumnya berasal dari hutan seluruh Indonesia, seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Papua. Sebagai akibat permintaan gaharu yang terus menerus meningkat, maka keberadaan tanaman sebagai penghasil gubal gaharu di dalam kawasan hutan semakin menurun dan terancam punah, karena dieksploitasi secara berlebihan dan kurang memperhatikan kaidah kelestarian. Karena itu dalam konferensi CITES IX di Florida AS tahun 1994, tanaman gaharu disepakati untuk dimasukkan dalam Apendix II CITES. Dengan masuknya gaharu dalam Appendix II CITES, berarti dalam kegiatan ekspor gaharu harus mengikiuti ketentuan-ketentuan yang diatur dalam CITES sesuai dengan keputusan Presiden No.43 tahun 1987.

Jenis-jenis Tumbuhan Penghasil Gaharu dan Penyebarannya
Tanaman Gaharu yang menghasilkan gubal gaharu terdiri dari berbagai jenis, dan umumnya termasuk suku Thymeleaceae. Jenis-jenis pohon penghasil gaharu yang telah diketahui antara lain: Aquilaria hirta Ridl., terdapat di semenanjung Malaya, Sumatera dan Bangka: A. crassna Pierr ex H. Lee, tersebar di Indo China dan Thailand; A. malaccensis Lamk. Banyak tersebar di India, Burma, Malaysia, Jawa Barat ,Kalimantan dan Philipina. Jenis-jenis lainnya seperti A. beccariana van Tiegh. Tersebar di Malasyia, Sumatera dan Kalimantan; Wikstroemia tenuiramis Miq. Terdapat di Malaysia dan Kalimantan sedangkan W. polyantha Merr. dijumpai di Malaysia, Jawa barat dan Kalimantan.
Untuk jenis Enkleia malaccensis Griff, dapat ditemukan di India, Burma, Semenangjung Malaya, Sumatera, Kalimantan serta Philipina; Gonystylus bancanus Griff (Miq.) Kurz., G. macropyllus (Miq.) Airy Show, Aetoxylon sympetalum (Steen & Domke) Airy Show, serta serta pohon gaharu yang ditemukan di Lombok yakni Girinops verstegii (Gilg) Domke juga dijumpai di Malaya, sumbawa, NTT, Sulawesi, dan Irian.

Tujuan
Adapun tujuan dibuatnya ide atau gagasan ini untuk menjelaskan jenis jenis tumbuhan penghasil gaharu, potensi dan penyebarannya, teknologi produksi dan pengolahannya, produk turunannya, kualitas dan pemasarannya.









BAB II
ISI
A.     Ide atau Gagasan
Gaharu adalah sejenis kayu dengan berbagai bentuk dan warna yang khas, memiliki kandungan damar wangi, berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu, sebagai akibat dari proses infeksi yang terjadi secara alami atau buatan biasanya pada pohon Aquilaria sp (Thymelaeaceae). Harga satu batang Pohon Agarwood bisa mencapai beberapa ribu dollar USD per kilogram, makanya pohon ini disebut sebagai “POHON YANG SANGAT MAHAL DI DUNIA – ”MOST EXPENSIVE TREES IN THE WORLD”.
Setelah penyulingan harga minyak gaharu bisa mencapai sekitar 5,000 - 10,000 USD/kg dan setelah dibuat menjadi cairan extract harganya mampu mencapai lebih dari USD 30,000 atau Rp. 300.000.000,- / Liter.

B.     Manfaat Gaharu
Gaharu ternyata memiliki berbagai khasiat sebagai obat-obatan antara lain: sebagai anti asmatik, anti mikrobia, stimulan kerja syaraf dan pencernaan. Dari segi etnobotani di China digunakan sebagai, obat sakit perut, Aphrodisiac (perangsang nafsu birahi), anodyne (penghilang rasa sakit), kanker, diare, tersedak, ginjal, tumor paru paru dan lain-lain, demikian juaga di Eropa gaharu digunakan sebagai obat kanker. Selain itu di India gaharu juga dikenal sebagai obat tumor usus. Khasiat gaharu untuk berbagai macam obat tersebut di atas, disebabkan karena gaharu diketahui mengandung tidak kurang dari 17 macam senyawa antara lain; 3,4-dihydroxydihydroagarufuran, agaros-pirol, p-methoxybenzylacetone, aquillochin dan noroxoagarufuran.
Pohon Gaharu yang kayunya bewarna putih dan lunak dilihat dari produk kayunya sendiri termasuk bermutu rendah, karena itu tidak memenuhi syarat untuk bahan bangunan atau bahan perabot rumah tangga. Namun gaharu termasuk komoditi yang bernilai tinggi karena produk gubalnya yang mengandung dammar wangi (aromatic resin). Oleh karena kandungan resin tersebut maka global gaharu sudah lama diperdagangkan sebagai komoditif ekspor untuk keperluan industri parfum, kosmetik, hio, setanggi dan obat-obatan. Negara-negara pengimpor utama antara lain: Singapura, Saudi Arabia, Taiwan, Uni emirat Arab dan Jepang.
Selain produk gubal yang dihasilkan, bagian lain dari pohon gaharu seperti
daun dan buahnya, diyakini oleh sebagian masyarakat sasak berkhasiat sebagai obat malaria. Selain itu, kulit kayunya yang memiliki serat yang sangat ulet dapat dibuat talitemali atau produk kerajinan lainnya yang cukup berharga. Meskipun pengkajian tentang pembudidayaan tanaman gaharu telah lamam dilakukan tapi teknologi budidaya gaharu termasuk teknologi yang relatif baru dalam bidang pertanian. Oleh karena itu, dalam rangka pemberdayaan masyarakat perlu memperhatikan persyaratan-persyaratan dalam penerapannya, yaitu : (1) teknis bisa dilaksanakan; (2) ekonomis menguntungkan; (3) sosial tidak bertentangan bahkan menumbuhkan/mendorong motivasi petani atau pengusaha; (4) tidak mencemari lingkungan bahkan mengkonversi lingkungan yang serasi dan sehat; dan (5) dapat mendorong pertumbuhan wilayah yang bersangkutan secara berkelanjutan.
Dengan demikian berarti, dalam pengembangan agroforestry gaharu harus layak bukan hanya dari aspek ekonomi, tapi juga dari aspek teknis, sosial budaya, lingkungan dan juga dari aspek pembangunan wilayah. Untuk memenuhi persyaratan tersebut berarti system dan jenis tanaman yang diusahakan haruslah dipilih sedemikian rupah agar sesuai dengan kondisi sosio-kultural dan ekonomi masyarakat setempat, lingkungan tempat pengembangan, dan mempunyai potensi pasar yang jelas.

C.     Teknologi Pengolahan Gaharu
1.      Teknologi produksi gubal gaharu      
Gubal gaharu (Aromatic resin) berasal dari bagian pohon penghasil gaharu yang tumbuh secara alami dan telah mati, sebagai akibat dari proses infeksi yang terjadi baik secara alami atau buatan pada pohon tersebut dan pada umumnya terjadi pada jenis pohon dari suku Thymeliceae. Pohon gaharu yang tidak terifeksi oleh suatu mikrobia yang sesuai tidak akan menghasilkan gubal gaharu.
Di belantara sering dijumpai pohon gaharu yang sudah sangat tua, diameter sampai mencapai 40 – 150 m tetapi belum dapat menghasilkan gubal gaharu. Hal ini menggambarkan bahwa untuk terbentuknya gubal gaharu, perlu adanya mikrobia yang masuk melalui luka sehingga dapat memacu pembentukan gubal gaharu.
Mikrobia yang menyebabkan terjadinya pembentukan gaharu pada setiap jenis pohon
gaharu biasanya berlainan, bahkan ada yang menyebutkan bahwa bagian batang dan akar mikrobianya berlainan. Keberadaan jamur Cytosphaera mangifera sebagai hasil isolasi dari gubal yang terbentuk pada batang gaharu A. malaccensis Lamk. Jamur parasit dari jenis Phialophora parasitica. Jamur tersebut, kecuali dapat menginfeksi batang pohon yang masih hidup juga dapat menginfeksi potongan-potongan batang yang sudah mati. Parman, et al (1996) menemukan mikrobia penyebab terbentuknya gubal gaharu pada pohon ketimunan yakni cendawan Fusarium lateritium dan Popollaria sp. Kemudian menemukan teknik inokulasi yang paling efektif dalam memacu terbentuknya gubal, yakni dengan menggunakan gergaji. Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan produksi gaharu secara artificial dengan meliputi tiga hal yang perlu dipahami yaitu :
1. Metode inokulasi
2. Evaluasi pasca inokulasi
3. Pemanenan

2. Teknologi inokulasi gaharu
Penyuntikan (inokulasi) yang dimaksudkan disini adalah memasukkan bibit gubal gaharu untuk memacu pembentukan gubal gaharu. Bibit gubal gaharu berupa jamur ditumbuhkan pada medium khusus. Untuk mendukung keberhasilan penyuntikan perlu dilakukan pemilihan pohon yang sesuai. Pohon yang memenuhi syarat-syarat untuk disuntik adalah pohon yang sudah berbuah, yaitu pohon yang berumur sekitar 5 - 6 tahun. Pertumbuhan pesat dan subur, diameter telah mencapai lebih dari 10 cm. Keadaan sekitarnya cukup teduh agar kelembaban tanah dan udara tetap terpelihara. Bibit gubal gaharu tidak terkontaminasi oleh jamur lain.
Pertumbuhan jamur yang telah optimal, memenuhi semua media inokulum.
Bahan dan alat
1. Bahan
Bibit gubal gaharu, berupa serbuk yang telah ditumbuhi jamur, spritus atau alkohol 70 %, paku reng, kawat, dan lilin lunak.
2. Alat
Gergaji, bor, parang, batang besi sepanjang 35 cm, pisau tajam (cutter), corong seng, serok, hand sprayer, meteran, kuas, palu, dan tang
3. Prosedur
·         Pengukuran dan pembuatan tanda pada pohon yang akan disuntik
·         Pembuatan lubang inokulasi
·         Inokulasi bibit gaharu
·         Penutupan lubang inokulasi

D.     Pemanenan dan Penanganan Pasca Panen Gaharu
1. Tanda-tanda morfologi pohon gaharu yang telah diinokulasi dan siap panen
·         Kulit batang di sekitar lubang inokulasi berwarna coklat kehitaman, rapuh, apabila ditarik mudah putus.
·         Jaringan di sekitar lubang inokulasi berwarna coklat kehitaman atau hitam, jika bagian batang berwarna hitam diambil dan dibakar akan mengeluarkan bau harum.
·         Batang yang sudah diinokulasi ditumbuhi tunas adventif dalam jumlah yang cukup banyak
·         Kanopi pohon yang mempunyai tanda-tanda seperti merana, atau daunnya banyak menguning dan mengalami kerontokan, sehingga menyebabkan beberapa ranting tidak berdaun.

2. Pemanenan dengan cara bertahap
·         Pemangkasan tunas adventif
·         Pencuplikan jaringan kayu yang mengandung gaharu
·         Pengupasan dan pengerokan gubal gaharu
·         Pemilahan gaharu menurut kelasnya
·         Pengeringan gaharu hasil pemilahan

3. Pemanenan dengan cara tebang habis
·         Penebangan dan pemotongan batang
·         Pembelahan, pengupasan dan pengerokan gaharu
·         Pembongkaran akar

Sistem dan jadwal panen
Sistem dan jadwal panen akan menentukan arus penerimaan dan periode waktu investasi. Periode investasi ditentukan oleh jadwal panen tanaman gaharu sebagai pokok. Jadwal panen ditentukan oleh system panen yang dipilih. Ada dua kemungkinan system panen gaharu yang dapat dipilih, yaitu :
1. Sistem panen habis, artinya semua tanaman gaharu yang ditanam pada tahun pertama akan dipanen habis pada akhir tahun kedelapan. Berarti penyuntikan inokulan dilakukan pada tahun keenam, karena sejak penyuntikan sampai panen membutuhkan waktu selama 2 tahun (Dephut, 2002; Parman, 2003). Dengan demikian berarti periode investasi dipandang berakhir pada akhir tahun kedelapan. Tanaman-tanaman lain yang belum habis masa panennya pada waktu itu diperhitungkan sebagai sisa investasi yang dimasukkan dalam arus penerimaan bersama-sama dengan hasil gaharu.
2. Sistem panen pilih, artinya tanaman gaharu yang ditanam pada tahun pertama dipanen secara bertahap sesuai dengan pertumbuhan tanaman atau pertimbangan-pertimbangan lain yang telah menguntungkan. Kalau panen misalnya dijadwalkan rata-rata 25 % sejak tahun kedelapan, berarti jadwal panen dan periode investasi akan berakhir pada ahun kesebelas. Pada akhir tahun kesebelas, kemungkinan besar tanaman-tanaman lain seperti kopi dan coklat umur ekonomisnya belum berakhir. Karena itu sisa dari tanaman-tanaman yang ada juga tetap diperthitungkan sebagai nilai sisa yang dimasukkan dalam arus penerimaan.



E.     Arti Ekonomi Tanaman Gaharu
Pohon Gaharu yang kayunya bewarna putih dan lunak dilihat dari produk kayunya sendiri termasuk bermutu rendah., karena itu tidak memenuhi syarat untuk bahan bangunan atau bahan perabot rumah tangga. Namun gaharu termasuk komoditif yang bernilai tinggi karena produk gubalnya yang mengandung dammar wangi. Oleh karena kandungan resin tersebut maka global gaharu sudah lama diperdagangkan sebagai komoditif ekspor untuk keperluan industri parfum, kosmetik, hio, setangi dan obat-obatan. Negara-negara pengimpor utama antara lain: Singapura, Saudi Arabia, Taiwan, Uni emirat Arab dan Jepang. Nilai ekonomi glubal gaharu bervariasi tergantung kelasnya. Penentuan kelas glubal gaharu tersebut didasarkan atas kandungan atau kadar resin yang dimiliki glubal gaharu tersebut. Ada beberapa kelas glubal gaharu yang dikenal dalam bisnis/perdagangan glubal gaharu seperti: kelas super, AB, BC, C1, dan C2. harga glubal gaharu yang berlaku untuk masing – masing kelas pada saat ini dapat dilihat pada table 1 berikut ini.
Tabel 6.1. Harga glubal gaharu menurut kelas
No.                  Klasifikasi                              Harga per Kg (Rp.)
1                      Super                                       4.000.000 – 5.000.000
2                      AB                                           2.000.000 – 3.000.000
3                      BC                                          1.000.000 – 1.500.000
4                      C1                                            500.000 – 750.00
5                      C2 (kemedangan)                   100.000 – 250.00

F.     Analisis Budidaya Gaharu
Analisa biaya dan keuntungan dari budidaya pohon penghasil gaharu, pada luasan tanah :
240 m2, jangka waktu 10 tahun. Dengan jarak tanam 3m x 3m luas tanah
240 m2 (asumsi 12 m x 20 m) cukup ideal ditanami gaharu sebanyak
25 batang.
Berikut ini adalah perincian biaya dan keuntungan dari budidaya pohon penghasil gaharu:

Harga Bibit Pohon Gaharu
1.Bibit anakan tanpa polibag isi: 110 Pohon Harga Rp.400.000,-
2.Bibit polibag siap tanam isi: 50 Pohon Harga Rp.1.250.000,-
3.Bibit paket investasi isi: 1 Pohon Harga Rp.500.000,-
4.Serum ( inokulum ) untuk suntik gaharu 1 liter harga Rp.850.000,-

1. Biaya
Biaya sendiri kita bedakan menjadi 3 yaitu:
biaya tahap 1 (pengadaan bibit,penanaman dan perawatan di tahun pertama),
biaya tahap 2 (perawatan tanaman pada tahun ke-2 sampai tahun ke-7),
biaya tahap 3 (inokulasi dan perawatan pasca inokulasi tahun ke-8 sampai tahun ke-10).

a. Biaya tahap 1 :
- pembelian bibit 25 btng @ Rp.15.000 = Rp. 375.000
- pupuk kandang 100 kg @ Rp.500 = Rp. 50.000
- pestisida (furadan,stiko,dll ) = Rp. 50.000
- tenaga penanaman = Rp. 200.000
- tenaga perawatan = Rp. 200.000
JUMLAH = Rp. 875.000,-

b. Biaya tahap 2 :
- pupuk kandang = Rp. 300.000
- pupuk pabrik = Rp. 300.000
- pestisida = Rp. 200.000
- tenaga perawatan = Rp. 500.000
- Biaya oprasional = Rp. 1.000.000
JUMLAH = Rp. 2.300.000

c. Biaya tahap 3:
- pembelian fusarium sp 25 botol @Rp.350.000 = Rp.4.375.000,- (Subsidi 50% dari Perusahaan)
- tenaga inokulan = Rp. 2.500.000
- tenaga perawatan = Rp. 500.000
- tenaga panen = Rp. 2.500.000
- lilin inokulan = Rp.100.000
JUMLAH = Rp.9.975.000,-

Jumlah a+b+c = Rp.13.150.000,-

2. Penerimaan
Dengan asumsi bahwa tingkat keberhasilan inokulasi adalah 80 %, dari 25 batang
tanaman cuma menghasilkan 20 batang pohon saja yang bisa dipanen. Satu batang, pohon gaharu dengan masa inokulasi 3 tahun menghasilkan rata-rata 2 kg gubal, 5 kg kemedangan, dan 10 kg abu. Sehingga total yang dihasilkan dari 20 batang adalah 40 kg gubal, 100 kg kemedangan, dan 200 kg abu.

A. GUBAL 40 KG @ RP.5.000.000,- = RP. 200.000.000
B. KEMEDANGAN 100 KG @ RP.1.000.000 = RP. 100.000.000
C. ABU 200 KG @ RP.200.000 = RP. 40.000.000
JUMLAH = RP.340.000.000,-
Jumlah penerimaan diatas kami ambil dari data harga jual gaharu yang paling rendah, sedangkan gubal kualitas super harga bisa mencapai Rp.25.000.000/Kg

3. Keuntungan
Penerimaan – Biaya = RP. 340.000.000- – RP. 13.150.000- = RP. 326.850.000
jadi keuntungan yang didapat dari rata rata per pohon
Rp.326.850.000 : 25 = Rp.13.074.000,-






BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
1.      Gaharu merupakan tanaman yang mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi, hampir semua bagian pohon gaharu ini dapat dimanfaatkan untuk bahan baku produk.
2.      Tanaman Gaharu yang menghasilkan gubal gaharu terdiri dari berbagai jenis, dan umumnya termasuk suku Thymeleaceae.
3.      Manfaat gaharu diantaranya adalah pewangi rungan, bahan baku industri parfum ekslusif, bahan baku industri kosmetika, bahan baku untuk bahan obat, bahan HIO, bahan Kohdoh (jepang), serta daunnya dimanfaatkan untuk teh hijau (agarwood tea).
4.      Dalam pengembangan agroforestry gaharu harus layak bukan hanya dari aspek ekonomi, tapi juga dari aspek teknis, sosial budaya, lingkungan dan juga dari aspek pembangunan wilayah.

Saran
            Seharusnya pemerintah lebih menyediakan teknologi yang lebih baik dan canggih agar pemanfaatan gaharu bagi para petani tidak hanya sebatas membudidayakan (menanam hingga memanen saja), tetapi hingga mengolah gaharu tersebut menjadi produk yang memiliki nilai tambah (added value) yang tinggi, layaknya menjalankan arus agribisnis. Sebagai contoh, seperti menyediakan alat penyuling (destilasi) kepada masyarakat/petani untuk pengolahan gubal gaharu menjadi minyak gaharu.







DAFTAR PUSTAKA
Baharuddin dan Taskirawati, Ira. 2009. Buku Ajar Hasil Hutan Bukan Kayu.            Unhas. Makassar
http://gaharusuper.blogspot.com/2011/12/sepintas-tentang-gaharu.html.[20 Maret   2015][22.00 WIB]

http://rumahnyabisnisgaharu.blogspot.com/2011/05/gaharu.html.[23 Maret  2015]
[22.15]

Winarno, FG dan Agustina,W. 2007. Pengantar Bioteknologi (Revised Edition).
MBrio Press :Jakarta.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar