Kamis, 09 April 2015

NILAI EKONOMI ECENG GONDOK

MakalahEkonomiSumberDayaHutan                                 Medan,Maret2015
NILAI EKONOMI ECENG GONDOK
DosenPembimbing :
Oleh :
Samrenta Defina Sianturi
NIM 131201018
HUT 4A














PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
201


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas kasih dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat pada waktunya.
Adapun judul dari makalah  ini adalah  Nilai Ekonomi Eceng Gondok yang merupakan salah satu syarat dalam mengikuti mata kuliah Agribisnis Tanaman Hutan.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan Agus Purwoko, S.Hut., M.Si yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama penulis mengikuti perkuliahan Agribisnis Tanaman Hutan.
Dalam penulisan makalah ini, masih banyak kesalahan yang terjadi baik dalam penulisan maupun penyajiannya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna kesempurnaan laporan ini.
Akhir kata semoga makal ah ini berguna bagi kita semua. Atas kesempatan yang diberikan kepada penulis, penulis mengucapkan terima kasih.




Medan,  Maret 2015



      Penulis


DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR..........................................................................i
DAFTAR ISI........................................................................................ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.         Latar Belakang.............................................................................................1
1.1.   Tujuan Penulisan..........................................................................................4
1.2.   Rumusan Masalah........................................................................................4
BAB II
PEMBAHASAN
2.    Deskripsi Eceng Gondok..............................................................................5
2.1. Manfaat dan Potensi Tanaman Eceng Gondok............................................7
2.2.   Prospek Ekonomi Eceng Gondok
1.    Eceng gondok sebagai komoditi kerajinan.............................................9
2.      Eceng gondok sebagai pupuk Kompos................................................11
3.      Eceng Gondok Sebagai Briket.............................................................13
4.      Eceng Gondok Sebagai Obat Herbal....................................................14
5.      Eceng Gondok Sebagai Pakan Ternak.................................................14
6.      Bahan Baku Pulp dan Kertas................................................................14
BAB III
PENUTUP
3.1.   Kesimpulan................................................................................................15
3.2.   Saran...........................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA





BAB I
PENDAHULUAN
1.  Latar Belakang
Sumber daya alam adalah sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan dan kebutuhan hidup manusia agar hidup lebih sejahtera yang ada di sekitar alam lingkungan hidup kita.Sumber daya alam bisa terdapat di mana saja seperti di dalam tanah, air, permukaan tanah, udara, dan lain sebagainya. Contoh dasar sumber daya alam seperti barang tambang, sinar matahari, tumbuhan, hewan dan banyak lagi lainnya.
Agar sumber daya alam dapat bermanfaat dalam waktu yang panjang maka hal-hal berikut sangat perlu dilaksanakan:Sumber daya alam harus dikelola untuk mendapatkan manfaat yang maksimal, tetapi pengelolaan sumber daya alam harus diusahakan agar produktivitasnya tetap berkelanjutan; Eksploitasinya harus di bawah batas daya regenerasi atau asimilasi sumber daya alam; Diperlukan kebijaksanaan dalam pemanfaatan sumber daya alam yang ada agar dapat lestari dan berkelanjutan dengan menanamkan pengertian sikap serasi dengan lingkungannya.
Di dalam pengelolaan sumber daya alam hayati perlu adanya pertimbangan-pertimbangan teknologi yang dipakai tidak sampai merusak kemampuan sumber daya untuk pembaruannya, Sebagian hasil panen harus digunakan untuk menjamin pertumbuhan sumber daya alam hayati, dampak negatif pengelolaannya harus ikut dikelola, misalnya dengan daur ulang, pengelolaannya harus secara serentak disertai proses pembaruannya.
Ekologi adalah suatu kajian studi terhadap hubungan timbal balik (interaksi) antar organism (antar makhluk hidup) dan antara organism (makhluk hidup) dengan lingkungannya. Faktor-faktor pembatas ekologis ini perlu diperhitungkan agar pembangunan membawa hasil yang lestari.Hubungan antara pengawetan ekosistem dan perubahan demi pembangunan demi pembangunan ada tiga prinsip yang perlu diperhatikan, yaitu: Kebutuhan untuk memperhatikan kemampuan untuk membuat pilihan penggunaan sumber alam di masa depan, Kenyataan bahwa penyelamatan masyarakat biotis dan sumber alam yang khas merupakan langkah pertama yang logis dalam pembangunan daerah baru, dengan alasan bahwa sumber alam tersebut tak dapat digantikan dalam arti pemenuhan kebutuhan dan aspirasi manusia, dan kontribusi jangka panjang terhadap pemantapan dan produktivitas daerah.
Hampir setiap waktu sumber daya alam ini tidak  dapat terlepas dari kehidupan manusia. Untuk menjamin keberlanjutan fungsi layanan sosial-ekologi alam dan keberlanjutan sumberdaya alam dalam cakupan wilayah yang lebih luas maka pendekatan perencanaan SDA dengan instrumen penataan ruang harus dilakukan dengan mempertimbangkan bentang alam dan kesatuan layanan ekosistem, endemisme dan keterancaman kepunahan flora-fauna, aliran-aliran energi sosial dan kultural, kesamaan sejarah dan konstelasi geo-politik wilayah.Dengan pertimbangan-pertimbangan ini maka pilihan-pilihan atas sistem budidaya, teknologi pemungutan/ekstraksi SDA dan pengolahan hasil harus benar-benar mempertimbangkan keberlanjutan ekologi dari mulai tingkat ekosistem lokal sampai ekosistem regional yang lebih luas.
Dengan pendekatan ekosistem yang diperkaya dengan perspektif kultural seperti ini tidak ada lagi “keharusan” untuk menerapkan satu sistem PSDA untuk wilayah yang luas. Hampir bisa dipastikan bahwa setiap ekosistem bisa jadi akan membutuhkan sistem pengelolaan SDA yang berbeda dari ekosistem di wilayah lain. ekosistem yang dianggap “buruk” dengan pengelolaan yang tepat, justru dapat menjadi penyelamat ekosistem lain. contoh yang dibawakan dalam makalah ini adalah tumbuhan Eceng Gondok.
Eceng gondok adalah salah satu tumbuhan air yang dapat dengan mudah kita temui di kolam kolam dangkal, rawa, dan sungai di seluruh perairan Indonesia. Eceng gondok sendiri sebenarnya memiliki fungsi sebagai penyerap residu dari pestisida dan penangkap polutan logam berat yang terbawa ke air. Namun karena kecepatan tumbuhnya yang sangat tinggi, tumbuhan ini seringkali dianggap sebagai gulma.Eceng gondok memiliki kecepatan tumbuh yang tinggi sehingga tumbuhan ini dianggap sebagai gulma yang dapat merusak lingkungan perairan. Eceng gondok dengan mudah menyebar melalui saluran air ke badan air lainnya.
Tumbuhan ini bisa menyumbat aliran sungai, mengganggu kelancaran transportasi air karena penyebarannya yang menutup seluruh area permukaan air, serta mempercepet proses pendangkalan karena eceng gondok yang mati akan tenggelam ke dasar sungai. Dampak buruk lainnya dari eceng gondok ini adalah berkurangnya debit air karena digunakan sebagai makanan bagi daun daunnya yang lebar yang tumbuh dengan sangat cepat. Karena beberapa hal inilah banyak yang menganggap eceng gondok sebagai sampah dan gulma, namun sebenarnya sampah ini dapat diolah sebagai sesuatu yang bernilai dan menguntungkan.Pertumbuhan eceng gondok yang cepat terutama disebabkan oleh air yang mengandung nutrien yang tinggi, terutama yang kaya akan nitrogen, fosfat dan potasium (Laporan FAO). Kandungan garam dapat menghambat pertumbuhan eceng gondok seperti yang terjadi pada danau-danau di daerah pantai Afrika Barat, di mana eceng gondok akan bertambah sepanjang musim hujan dan berkurang saat kandungan garam naik pada musim kemarau.
Banyak orang mengenal tanaman enceng gondok atau dalam bahasa latin bernama Eichornia crassipes, merupakan gulma bagi tanaman disawah. Selain sebagai gulma dalam jumlah besar enceng gondok akan mengakibatkan pendangkalan pada perairan seperti danau dan kolam.Akibat-akibat negatif yang ditimbulkan eceng gondok antara lain, meningkatnya evapotranspirasi (penguapan dan hilangnya air melalui daun-daun tanaman), karena daun-daunnya yang lebar dan serta pertumbuhannya yang cepat, menurunnya jumlah cahaya yang masuk kedalam perairan sehingga menyebabkan menurunnya tingkat kelarutan oksigen dalam air (DO: Dissolved Oxygens), tumbuhan eceng gondok yang sudah mati akan turun ke dasar perairan sehingga mempercepat terjadinya proses pendangkalan, mengganggu lalu lintas (transportasi) air, khususnya bagi masyarakat yang kehidupannya masih tergantung dari sungai seperti di pedalaman Kalimantan dan beberapa daerah lainnya, meningkatnya habitat bagi vektor penyakit pada manusia, menurunkan nilai estetika lingkungan perairan, dikenal sebagai tanaman gulma air, karena pertumbuhannya yang begitu cepat sehingga menutupi permukaan air, menimbulkan permasalahan lingkungan lainnya, seperti cepatnya penguapan perairan.

Eceng gondok yang memiliki nama ilmiah Eichornia crassipes merupakan tumbuhan air dan lebih sering dianggap sebagai tumbuhan pengganggu perairan. Eceng gondok memiliki tingkat pertumbuhan yang sangat cepat. Dalam tempo 3–4 bulan saja, eceng gondok mampu menutupi lebih dar 70% permukaan danau. Cepatnya pertumbuhan eceng gondok dan tingginya daya tahan hidup menjadikan tumbuhan ini sangat sulit diberantas. Pada beberapa negara, pemberantasan eceng gondok secara mekanik, kimia dan biologi tidak pernah memberikan hasil yang optimal. Ada juga hasil penelitian yang menunjukkan bahwa eceng gondok berpotensi menghilangkan air permukaan sampai 4 kali lipat jika dibandingkan dengan permukaan terbuka.
Dari berbagai hasil penelitian, eceng gondok terbukti mampu menyerap zat kimia baik yang berasal dari limbah industri maupun rumah tangga (domestik). Karena kemampuannya itu, eceng gondok dapat dimanfaatkan untuk mengolah limbah kedua sumber tersebut (industri dan rumah tangga) secara biologi.
Pertumbuhan populasi eceng gondok yang tidak terkendali menyebabkan pendangkalan ekosistem perairan dan tertutupnya sungai serta danau.Selain sisi gelapnya, tumbuhan yang aslinya berasal dari Brazil ini juga ternyata memiliki sisi terangnya. Beberapa penelitian menunjukkan, eceng gondok dapat menetralisir logam berat yang terkandung dalam air. Pada beberapa daerah, eceng gondok bermanfaat sebagai bahan baku kerajinan tangan. Karena kandungan seratnya yang tinggi, eceng gondok bahkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri. Di Thailand, eceng gondok sudah menjadi komoditi petani, dibuat plot-plot seperti pencetakan sawah-sawah di Jawa. Di negara gajah putih ini, eceng gondok juga telah menjadi bahan baku industri kerajinan rakyat.

1.1.  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan disusunnya makalah ini adalah untuk memenuhi syarat tugas yang telah di berikan oleh Dosen Mata Kuliah.
1.2.  Rumusan Masalah
1.      Apa manfaat dan potensi dari tanaman Eceng Gondok?
2.      Bagaimana prospek pengembangan pemanfaatan (pengelolaan) secara ekonomi yang bisa didapat dari tanaman Eceng Gondok?

BAB II
PEMBAHASAN

2.    Deskripsi Eceng Gondok
Eceng gondok atau enceng gondok jenis tumbuhan air mengapung. Selain dikenal dengan nama eceng gondok, di beberapa daerah di Indonesia, eceng gondok mempunyai nama lain seperti di daerah Palembang dikenal dengan nama Kelipuk, di Lampung dikenal dengan nama Ringgak, di Dayak dikenal dengan nama Ilung-ilung, di Manado dikenal dengan nama Tumpe. Eceng gondok pertama kali ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang ilmuwan bernama Carl Friedrich Philipp von Martius, seorang ahli botani berkebangsaan Jerman pada tahun 1824 ketika sedang melakukan ekspedisi di Sungai Amazon Brasil. Eceng gondok memiliki kecepatan tumbuh yang tinggi sehingga tumbuhan ini dianggap sebagai gulma yang dapat merusak lingkungan perairan. Eceng gondok dengan mudah menyebar melalui saluran air ke badan air lainnya.
Eceng gondok hidup mengapung di air dan kadang-kadang berakar dalam tanah. Tingginya sekitar 0,4 - 0,8 meter. Tidak mempunyai batang. Daunnya tunggal dan berbentuk oval. Ujung dan pangkalnya meruncing, pangkal tangkai daun menggelembung. Permukaan daunnya licin dan berwarna hijau. Bunganya termasuk bunga majemuk, berbentuk bulir, kelopaknya berbentuk tabung. Bijinya berbentuk bulat dan berwarna hitam. Buahnya kotak beruang tiga dan berwarna hijau. Akarnya merupakan akar serabut.
Tumbuhan ini dapat beradaptasi dengan perubahan yang ekstrem dari ketinggian air, arus air, dan perubahan ketersediaan nutrien, pH, temperatur dan racun-racun dalam air. Pertumbuhan eceng gondok yang cepat terutama disebabkan oleh air yang mengandung nutrien yang tinggi, terutama yang kaya akan nitrogen, fosfat dan potasium (Laporan FAO). Kandungan garam (tinggi)pada lingkunganvdapat menghambat pertumbuhan tanaman eceng gondok seperti yang terjadi pada danau-danau di daerah pantai Afrika Barat, di mana eceng gondok akan bertambah sepanjang musim hujan dan berkurang saat kandungan garam naik pada musim kemarau.
Akibat Negatif
Akibat-akibat negatif yang ditimbulkan eceng gondok antara lain:Meningkatnya evapotranspirasi (penguapan dan hilangnya air melalui daun-daun tanaman), karena daun-daunnya yang lebar dan serta pertumbuhannya yang cepat, menurunnya jumlah cahaya yang masuk kedalam perairan sehingga menyebabkan menurunnya tingkat kelarutan oksigen dalam air (DO: Dissolved Oxygens), tumbuhan eceng gondok yang sudah mati akan turun ke dasar perairan sehingga mempercepat terjadinya proses pendangkalan, mengganggu lalu lintas (transportasi) air, khususnya bagi masyarakat yang kehidupannya masih tergantung dari sungai seperti di pedalaman Kalimantan dan beberapa daerah lainnya, meningkatnya habitat bagi vektor penyakit pada manusia, menurunkan nilai estetika lingkungan perairan.

Cara Penanggulangan Eceng Gondok
Karena Eceng gondok dianggap sebagai gulma yang mengganggu maka berbagai cara dilakukan untuk menanggulanginya. Tindakan-tindakan yang dilakukan untuk mengatasinya antara lain:Menggunakan herbisida, mengangkat eceng gondok tersebut secara langsung dari lingkungan perairan, menggunakan predator (hewan sebagai pemakan eceng gondok), salah satunya adalah dengan menggunakan ikan grass carp (Ctenopharyngodon idella) atau ikan koan. Ikan grass carp memakan akar eceng gondok, sehingga keseimbangan gulma di permukaan air hilang, daunnya menyentuh permukaan air sehingga terjadi dekomposisi dan kemudian dimakan ikan. Cara ini pernah dilakukan di danau Kerinci dan berhasil mengatasi eceng gondok di danau tersebut, memanfaatkan eceng gondok tersebut, misalnya sebagai bahan pembuatan kertas, kompos, biogas, perabotan, kerajinan tangan, sebagai media pertumbuhan bagi jamur merang, dan lain sebagainya.Laju pertumbuhan enceng gondok di perairan sangat cepat dan tidak terkendali, hal ini dapat menimbulkan banyak sekali kerugian yakni mengurangi produktivitas badan air ( mengambil ruang, mengambil unsur hara  yang juga dibutuhkan oleh ikan ). Oleh karena itu banyak upaya dilakukan untuk memberantasnya walaupun amat sulit karena pertumbuhannya yang amat cepat.
2.1.  Manfaat dan Potensi Tanaman Eceng Gondok
Meski seringkali dianggap sebagai gulma yang mengganggu populasi dalam suatu ekologi, namun Eceng Gondok ternyata memiliki banayak manfaat dan berpotensi memberikan keuntungan secara ekologi dan ekonomi.

a.)  Manfaat Eceng Gondok
Memanfaatkan eceng gondok tersebut, misalnya sebagai bahan pembuatan kertas, kompos, biogas, perabotan, kerajinan tangan, sebagai media pertumbuhan bagi jamur merang, dsb. Pembersih Polutan Logam Berat eceng gondok dilaporkan juga mampu menyerap residu pestisida.
Secara alamiah sebenarnya enceng gondok dapat berfungsi untuk mengurangi kandungan logam berat - Fe,Zn,Cu,Hg - yang ada di perairan.Beberapa logam berat yang sering mencemari ekosistem perairan diantaranya Fe, Mg, Mn, Pb, dan Ni. Dengan demikian tanaman ini sebenarnya dapat berfungsi untuk membersihkan air dari limbah atau racun yang ditimbulkan oleh kegiatan-kegiatan di sektor pertanian dan manufaktur misalnya, pestisida dan limbah pabrik. Enceng gondok dikenal sebagai tanaman yang mempunyai kadar selulose besar. Oleh karena itu dengan sedikit inovasi sebenarnya tanaman tersebut dapat diproses menjadi bahan bakar alternatif dan kompos.
Beberapa logam berat yang sering mencemari ekosistem perairan diantaranya Fe, Mg, Mn, Pb, dan Ni.
Di sisi lain eceng gondok dapat juga di manfaatkan secara komersial. Enceng gondok dapat dibuat barang-barang seperti; tas, sepatu, sandal, keranjang, tempat tissue, bahkan juga mebel seperti kursi, meja dan sofa besar. Namun sampai saat ini memang belum banyak pengrajin atau pengusaha yang memanfaatkan enceng gondok tersebut untuk tujuan-tujuan komersial.
Sesuai dengan jenisnya, tanaman eceng gondok ada yang dapat dikonsumsi dan tidak dapat dikonsumsi :
1.Genjer, umumnya ditemukan di daerah persawahan. Masyarakat biasa mengambil daun muda dan bunga kuncupnya sebagai sayur.
2. Enceng Gondok, tumbuh mengapung di perairan di sekitar persawahan atau jalur aliran sungai. Tanaman jenis ini ini tidak bisa dikonsumsi.
b.) Potensi Eceng Gondok
Meskipun tumbuhan yang lebih sering dianggap sebagai tumbuhan pengganggu kawasan perairan ini memiliki banyak dampak negatif, ternyata eceng gondok memiliki berbagai manfaat, diantaranya: Eceng gondok mampu menetralkan limbah rumah tangga dan industri, menyerap uranium dan mercirium, dua zat yang sangat berbahaya bila mencemari perairan, pembersih polutan logam berat
Walaupun eceng gondok dianggap sebagai gulma di perairan, tetapi sebenarnya ia berperan dalam menangkap polutan logam berat. Dalam waktu 24 jam eceng gondok mampu menyerap logam kadmium (Cd), merkuri (Hg), dan nikel (Ni), masing- masing sebesar 1,35 mg/g, 1,77 mg/g, dan 1,16 mg/g bila logam itu tak bercampur. Eceng gondok juga menyerap Cd 1,23 mg/g, Hg 1,88 mg/g dan Ni 0,35 mg/g berat kering apabila logam-logam itu berada dalam keadaan tercampur dengan logam lain. Lubis dan Sofyan (1986) menyimpulkan logam chrom (Cr) dapat diserap oleh eceng gondok secara maksimal pada pH 7. Dalam penelitiannya, logam Cr semula berkadar 15 ppm turun hingga 51,85 persen, mampu menyerap residu pestisida, Eceng gondok dapat diolah menjadi bahan pembuatan kertas, kompos, biogas, perabotan, kerajinan tangan, sebagai media pertumbuhan bagi jamur merang, Eceng gondok kaya asam humat yang menghasilkan Senyawa Fitohara yang mampu mempercepat pertumbuhan akar tanaman, Eceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
            Enceng gondok ternyata merupakan sumber lignoselulosa yang dapat dikonversi menjadi produk yang lebih berguna, seperti pakan ternak. Namun pemanfaatan enceng gondok sebagai pakan mempunyai beberapa kelemahan, antara lain : kadar airnya tinggi, teksturnya halus, banyak mengandung hemiselulosa dan proteinnya sulit dicerna. Oleh karena itu perlu dilakukan pengolahan terlebih dahulu baik pengolahan fisik, kimia, biologi maupun kombinasinya.
Banyak potensi ekonomi yang dapat dihasilkan dari tanaman Aceng Gondok. Beberapa contoh diantaranya, Bahan Baku Pulp dan Kertas, bahan baku pupuk, pakan ternak, kerajinan tangan, pembuatan briket, sebagai bahan pembuatan obat herbal, dan lain sebagainya.
2.2.  Prospek Ekonomi Eceng Gondok
Banyaknya potensi alam tanaman enceng gondok dan peluang ekonomi yang cukup menjanjikan membuat sentra kerajinan enceng gondok dibeberapa tempat. Hanya perlu lebih diintensifkan lagi agar meningkatkan ekonomi bisnis usaha kecil dan rumah tangga. Peluang usaha kerajinan enceng gondok semakin menemukan tempatnya, seiring dengan pengembangan kerja sama industri kerajinan dan mebel berbasis bahan baku eceng gondok antara Indonesia dengan Pemerintah Mesir.Pengembangan bisnis kerajinan enceng gondok selain ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat terutama kelompok Bisnis Usaha Kecil Dan Menengah(UKM) juga bermanfaat dalam mendukung lingkungan hidup daerah sekitar.

Di bawah ini beberapa contoh pengembanagn (Pengelolaan) dari tanaman Eceng gondok yang dapat memberikan keuntungan besar :
1.    Eceng gondok sebagai komoditi kerajinan
Dengan serat batang daun yang cukup kuat, setelah dikeringkan tanaman eceng gondok ini dapat diubah menjadi berbagai jenis kerajinan yang memiliki nilai eksotisme dan nilai jual tinggi seperti tas jinjing, sendal, dompet, hiasan dinding, taplak meja, dan lain sebagainya sesuai dengan kreatifitas para pengrajin. Barang barang tersebut bahkan mampu menjadi salah satu komoditi eksport yang diminati berbagai negara di eropa, Australia, Amerika, dan beberapa negara lainnya seperti Arab Saudi dengan nilai jual berkisar antara 20 ribu sampai 200 ribu bahkan lebih tergantung kerumitan model dan variasi bentuk.
Cara Membuat:
a.Pengumpulan: Pengumpulan eceng gondok ini sebenarnya menjadi pekerjaan mulia karena bisa membersihkan sungai sekaligus mencegah banjir yang mungkin datang karena akibat yang kontra produktif tanaman eceng gondok ini.  
b.    Pencucian: Cara mencuci eceng gondok ini cukup disemprot dengan air bersih dan dirontokkan kotorannya dengan cara dibanting-banting. Pencucian bisa dilakukan di lokasi pengumpulan enceng gondok agar tidak mengotori angkutan yang akan membawanya ke tempat produksi tas.
c.    Pemisahan Dari Tangkai: Setelah sampai di lokasi pengrajin, eceng gondok mulai dipilah-pilah. Pemilahan antara daun dan batang ini diperlukan untuk mengklasifikasikan bahan yang akan digunakan sebagai pembuat tas atau kerajinan lainnya. Pemisahan bisa dilakukan dengan cara memotong menggunakan gunting kain yang kuat atau dengan pisau. Karena keuletan dan kerasnya enceng gondok sulit untuk dipatahkan dengan tangan biasa.
d.   Pengeringan Enceng Gondok: Apabila sedang musim kemarau maka pengeringan ini bisa berjalan dengan lancar dan waktunya cukup singkat. Hal ini Berbeda ketika musim hujan yang pengeringannya berjalan sangat lama dan tidak mudah.Pada beberapa industri kecil pembuatan kerajinan dari eceng gondok juga dilakukan pengeringan dengan cara diasap atau diletakkan dalam ruangan pengering. Tetapi cara ini tetap kurang efektif dan kurang disukai karena kualitas eceng gondok akan menurun dibanding dengan proses pengeringan alami.
e.    Penganyaman Eceng Gondok: Batang biasanya dianyam terlebih dahulu setelah kering, sebelum digunakan sebagai bahan baku pembuatan tas, sepatu, dan aksesori lainnya. Penganyaman ini bisa berbentuk lilitan kecil ataupun anyaman sedang.
f.     Membuat Pola: Sebelum memotong dan membentuk anyaman yang telah dibuat, maka terlebih dahulu pengrajin perlu membuat pola produk yang akan dihasilkan, bisa membuat pola tas ataupun sepatu dan aksesori lainnya. Pembuatan pola ini diaplikasikan pada kertas koran atau cukup digambar apabila pola nanti berfungsi untuk membentuk anyaman enceng gondok.
g.    Finishing: Dari pola yang telah dibuat maka lembaran anyaman enceng gondok bisa digunting sesuai pola tersebut. Untuk pola yang berbentuk aksesori lilit bisa langsung dilihat dan diaplikasikan dalam anyaman yang tengah dilakukan. Setelah produk sudah terbentuk, maka selanjutnya kita bisa mewarnai atau melakukan finishing dengan cat atau fernis. Tas atau sepatu dari enceng gondok bisa dibiarkan sesuai serat yang dihasilkannya atau bisa juga dilukis dengan berbagai macam corak.
Beberapa hasil kerajinan dari eceng gondok :

2.    Eceng gondok sebagai pupuk Kompos
Selain dapat dirubah sebagai berbagai jenis barang yang cantik dan eksotis, eceng gondok juga dapat dirubah menjadi pupuk organik dengan kualitas tinggi. Eceng gondok sendiri mengandung senyawa fitohara yang dapat mempercepat pertumbuhan akar sehingga tanaman dapat tumbuh lebih cepat dan lebih baik. Bahkan penelitian yang dilakukan di Laboratorium Pertanian Pesantren Alam Bubohu tentang evektifitas tanaman eceng gondok sebagai pupuk organik mendapatkan hasil yang sangat menakjubkan.
Tanaman yang baru berusia 5 bulan sudah mampu menghasilkan 10 kg ketela jika dipupuk menggunakan eceng gondok, padahal lazimnya ketela sebanyak itu baru bisa diperoleh pada usia 9 bulan. 1 hektar lahan yang biasanya menghasilkan 20 – 30 kg ketela juga akan mendapatkan hasil hampir 100 kg jika dipupuk menggunakan eceng gondok.
Ada banyak senyawa asam humat dalam kandungan pupuk kompos eceng gondok. Senyawa asam humat adalah senyawa yang dapat menghasilkan fitohormon yang mampu mempercepat pertumbuhan akar tanaman. Sehingga membantu pertumbuhan tanaman.
Cara membuat:
Bahan:
•1 Ton eceng gondok kadar air 60%
•250 Kg Kotoran ternak
•10 Kg Dolomit (opsional)
•2,5 Kg STARDEC
Alat:
• Golok / mesin pencacah
• Pacul
• Bambu Belah panjang 1.5 meter
Prosedur:
•Cacah eceng gondok dengan golok / mesin pencacah
•Jemur eceng gondok hingga kadar air menjadi 60% - ditandai dengan tidak adanya air keluar dari eceng gondok ketika diperas dengan tangan
•1 ton eceng gondok yang sudah dikeringkan ini siap untuk pengolahan selanjutnya
•Buat kandang pagar bambu di atas permukaan tanah dengan ukuran 1 x 1 x 1.5 meter di tempat yang terhindar dari siraman air hujan
•Masukkan kotoran ternak kedalam kandang bambu setinggi 5 cm
•Taburkan sedikit dolomit dan STARDEC ke keseluruhan permukaan kotoran ternak secara merata
•Masukkan eceng gondok yang sudah dikeringkan ke dalam kandang bambu, injak-injak hingga ketinggian mencapai 30 Cm
•Taburkan kembali pupuk kandang dan dolomit setebal 5 - 10 Cm beserta STARDEC di atas permukaan lapisan eceng gondok.
•Maukkan kembali eceng gondok, injak-injak hingga lapisan eceng gondok ke dua ini mencapai tinggi 30 Cm
•Ulangi langkah penaburan lapisan pupuk kandang, dolomit, STARDEC dan lapisan eceng gondok sampai ketinggian mencapai minimum 1.2 meter
•Biarkan tumpukan selama 1 minggu
•Suhu bahan kompos akan naik ke kisaran 60º - 80º Celcius
•Buka pagar bambu
•Pindahkan tumpukan bahan kompos ke samping dengan menggunakan pacul. Pemindahan/pembalikan ini berfungsi untuk mencapur material agar tercampur rata
•Biarkan kembali tumpukan selama 1 minggu
•Pindahkan kembali tumpukan ketempat semula
•Lakukan langkah-langkah pembalikan di atas sampai minggu ke empat
•Pada minggu ke lima EGON Fine Compost telah matang dan siap digunakan untuk pemupukkan

3.    Eceng Gondok Sebagai Briket
Biobriket atau briket biomassa atau disebut pula briket bioarang adalah bahan bakar padat yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif yang mempunyai bentuk tertentu. Menurut Basriyanta biomassa limbah industri, hutan, perkebunan, pertanian, dan sampah merupakan semua bahan baku biobriket, sebagai sumber energi alternatif terbesar.
Dengan penggunaan briket arang sebagai bahan bakar maka kita dapat menghemat penggunaan kayu sebagai hasil utama dari hutan. Selain itu penggunaan briket arang dapat menghemat pengeluaran biaya untuk membeli minyak tanah atau gas elpiji. Dengan memanfaatkan serbuk gergaji sebagai bahan pembuatan briket arang maka akan meningkatkan pemanfaatan limbah hasil hutan sekaligus mengurangi pencemaran udara, karena selama ini limbah ampas batang aren yang ada hanya dibakar begitu saja. Dengan bahan eceng gondok ini, diharapkan masyarakat juga dapat mengurangi pemakaian kayu sebagai bahan dasar briket.

Cara membuat:
1.      Eceng gondok diiris-iris lalu digiling dengan mesin penggiling sederhana. Air perasannya dipisahkan dan bisa dimanfaatkan untuk pupuk.
2.      Setelah itu, campuran tadi dimasukkan ke dalam silinder pencetak yang berdiameter 15 sentimeter. Setelah dijemur tiga hari, briket eceng gondok pun bisa langsung digunakan. Dengan ditambah sedikit minyak tanah, briket akan segera membara dan siap untuk memasak.
Briket bisa juga dibakar sehingga menjadi bio arang. Dengan kandungan karbon yang lebih tinggi dan kadar air yang terkurangi, mutu bio arang ini lebih baik dibanding briketnya. Selain ramah lingkungan, briket dan bio arang ini lebih harum dan sedikit asapnya.
4.    Eceng Gondok Sebagai Obat Herbal
Selain sebagai bahan kerajinan, pupuk, dan biobriket, Eceng Gondok juga dapat bermanfaat untuk kesehatan. Anatra lain: mengobati penyakit lambung seperti maag, memperbaiki kinerja hati, obat asma atau sesak nafas, meneymbuhkan sakit gigi dan gejalanya, menurunkan panas atau demam, mengatasi sakit perut, dan lain-lain.

Cara membuat:
Semua manfaat di atas dengan cara merebus akar atau rimpang dari Eceng Gondok kemudia diminum dengan sedikit tambahan garam. Namun untuk sakit perut, dibutuhkan bagian daun untuk proses pembuatanya.

5.    Eceng Gondok Sebagai Pakan Ternak
            Sebagaimana tanaman lainnya, eceng gondok dapat dijadikan pakan ternak. Karena tingginya kandungan serat kasar, eceng gondok harus diolah terlebih dahulu. Salah satu teknik pengolahannya adalah melalui teknologi fermentasi.

Cara membuat:
1.    Pada proses ini, eceng gondok diolah menjadi tepung
2.    Difermentasikan secara padat
3.    Dengan menggunakan campuran mineral dan mikroba Trichoderma harzianumproses fermentasi dilakukan selama 4 hari dengan suhu ruangan.

6.    Bahan Baku Pulp dan Kertas
            Di saat sedang menurunnya pasokan kayu tropis dan meningkatnya kerusakan hutan, eceng gondok dapat dijadikan sebagai penyedia bahan baku pulp yang bernilai ekonomis. Menurut Patt (1992), proses pulping kimia masih dianggap menguntungkan secara ekonomis apabila nilai rendemen tersaring di atas 40% dan bilangan Kappa dibawah 25.Kertas dari eceng gondok menurut standar tergolong dalam kelas kualitas II. Dengan demikian, eceng gondok memiliki prospek sebagai bahan baku kertas yang bernilai ekonomis cukup tinggi.
BAB III
PENUTUP
3.1.  Kesimpulan
1.    Enceng gondok memiliki banyak manfaat, baik manfaat ekologi dan manfaat ekonomi
2.    Dari sisi ekologi, eceng gondok mampu meningkatkan kualitas air yang tercemar. Berkat eceng gondok, logam berat dan polutan lainnya bisa diserap dari ekosistem perairan.
3.    Dari sisi ekonomi, eceng gondok dapat diolah menjadi berbagai produk, antara lain: pupuk, briket, kerajinan tangan, obat, pakan ternak, bahan kertas dan pulp, dan lain sebagainya
4.    Semua bagian dari eceng gondok dapat dimanfaatkan, baik manfaat secara ekologi maupun ekonomi
5.    Banyaknya potensi alam tanaman enceng gondok merupakan kesempatan untuk peluang ekonomi yang cukup menjanjikan.

3.2.  Saran
            Sebaiknya pihak-pihak terkait mampu mensosialisasikan manfaat dan keuntungan  dari Eceng gondok kepada masyarakat, dan diadakan penelitian-penelitian lebih lanjut terhadap tumbuhan eceng gondok agar dapat dijadikan sebagai peluang usaha. Sementara lembaga atau pihak terkait mampu dan mau mendanai penelitian tersebut. Dengan demikian, masyarakat tidak lagi memandang Eceng gondok sebagai gulma.
DAFTAR PUSTAKA
Rozak, Galih. 2010. Pemanfaatan Tanaman Eceng Gondok Sebagai Pupuk.            Penelitian Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri Universitas         Pembangunan Nasional “veteran” Jawa Timur. Surabaya.
Warming. 2013. Eceng Gondok: Si Sampah yang Berharga. Diakses dari    http://jujubandungblogspot.com-eceng-gondok-sampah-berharga.html [21     Maret 2014] [19:15 wib].
Lestari, P. 2010. Bisnis Kerajinan Eceng Gondok. Diakses dari             http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2009/07/14/11040175/kerajinan.ta  ngan.eceng.gondok.html [21 Maret 2015] [20:21 wib].
Ria. 2014. Kearajinan Eceng Gondok. Diakses dari http://riablogspot.kerajinan-     tangan-            ecenggondok.com.html [25 Maret 2015] [21:08 wib].
Supartono. 2014. Pemanfaatan Eceng Gondok Sebagai Tumbuhan Yang Memiliki             Nilai Guna dan Bisnis dan AGAR ECENG GONDOK TIDAK BIKIN            GONDOK. Diakses dari http://Pemanfaatan/Eceng Gondok Sebagai            Tumbuhan Yang Memiliki Nilai Guna dan Bisnis.com/read.html [25            Maret 2015] [21:22 wib].
Rasyid, Tuti, dkk. 2007. Teknik Pembuatan Briket Campuran Eceng Gondok.        Tenik Kimia, Fakultas Tenik UNSRI. Palembang.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar